Showing posts with label Psychology. Show all posts
Showing posts with label Psychology. Show all posts
"Boleh kapan-kapan ikut kelas meditasi bareng elu, Vin?"
"Heh? Boleh boleh saja sih, tapi kenapa tiba-tiba mau ikut kelas meditasi?"
"Lagi pusing Vin, banyak masalah..."

Diskusi di atas biasa akan saya akhiri dengan, "Well, emang ada masalah apa?" Setelah itu saya memberikan kesempatan kepada lawan bicara saya untuk menceritakan masalahnya. Saya bukan konselor yang baik, tapi setidaknya dengan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memuntahkan masalahnya, akan sedikit meringankan beban di dalam pikirannya. Dan, ujung-ujungnya tidak jadi ikut kelas meditasi, sih...

Mungkin karena di belahan bumi bagian barat sana sedang nge-trend gerakan mindfulness alias "berkesadaran", semua dibuat versi mindful-nya, ada mindful breathing, mindful therapy, mindful eating (makan berkesadaran), mindful parenting (pola asuh berkesadaran), sampai mindful leadership (kepemimpinan berkesadaran). Padahal, gerakan mindfulness sudah ada di belahan timur bumi dari ribuan tahun yang lalu, tapi masih belum dianggap ilmiah dan justru lebih dianggap mistis.

Karena gerakan mindful yang sedang ngetren itu, maka mungkin orang-orang berpikir bahwa mindful adalah obat psikologis yang paling manjur. Ujung-ujungnya, orang-orang mengira bahwa meditasi adalah solusi dari segala masalah. Memang, meditasi (bentuk latihan mindfulness yang paling dasar) bisa memberikan banyak kelegaan secara psikologis, tapi meditasi bukanlah solusi dari semua masalah kehidupan. Bila mengalami masalah, ya diselesaikan masalahnya, bukan bermeditasi.

Ketika teman sedang ada masalah dengan kuliahnya, kepingin ikut-ikutan meditasi...
Ketika teman sedang ada masalah dengan pacarnya, kepingin ikut-ikutan meditasi...
Ketika teman sedang kesulitan finansial, kepingin ikut-ikutan meditasi...

Jadinya, mereka bermeditasi demi mendapatkan sesuatu, entah itu agar bisa mendapatkan kelancaran kuliah, hubungan yang lebih baik dengan pasangan, atau tiba-tiba mendapatkan rezeki nomplok. Tentu saja itu tidak masuk akal! Meditasi tidak bisa menghilangkan masalah kita. Kita tetap harus menghadapi masalah yang kita hadapi. Ada masalah dengan nilai kuliah? Belajar! Ada masalah dengan pasangan? Perbaiki komunikasi! Ada masalah finansial? Coba periksa pengelolaan keuangan anda!

Sehingga tidak perlu terjadi lagi, tiba-tiba di kelas meditasi muncul banyak orang baru, namun 2-3 kali pertemuan langsung hilang lagi. Seperti angin, datang orang baru - pergi orang baru - datang orang yang baru lagi - pergi lagi orang yang baru itu - datang yang lebih baru lagi - dan seterusnya tanpa akhir. Ya jelas saja akan begitu! Karena pola pikirnya, dikira bermeditasi segala masalah kehidupan akan selesai.

Lalu, apa gunanya bermeditasi? Secara simpel, esensi meditasi adalah melepas dan menyadari. Apa yang dilepas? Segala beban di dalam pikiran kita. Ketika kita memiliki masalah, pikiran kita selalu "menggenggam" permasalahan tersebut. Kita mengulang-ulang gambaran kejadian masalah itu di dalam pikiran kita, terus-menerus memikirkannya, dan terus-menerus menderitas karenanya. Ujung-ujungnya kita menjadi stres berat. Pertanyaannya, apakah pikiran yang stres bisa menghasilkan solusi yang jernih? Tentu tidak! Maka itu, meditasi merupakan praktik melepas. Kita lepaskan dulu pikiran-pikiran tersebut, sehingga tingkat stres kita menurun.

Lalu, apa yang perlu disadari? Setelah melepas beban-beban pikiran kita akan kejadian yang sudah terjadi dan berlalu itu, kita kemudian mulai menyadari masa kini. Kita tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan, kita hidup di masa kini. Akan tetapi, permasalahan hidup membuat kita terus-menerus tertahan di masa lalu. Setelah kita melepaskannya, kita mulai menyadari masa kini. Bagaimana caranya? Duduk diam (kadangkala tidak harus duduk, bisa juga sambil berbaring atau makan, atau lainnya), sadari napas yang keluar-masuk dari hidung kita. Tidak perlu mengomentari apapun, cukup sadari. Jangan mengomentari, "Napas ini berat, napas ini ringan. Ada bau-bauan di ruangan," cukup sadari. Sadari bagaimana napas melewati hidung kita ketika ia sedang keluar masuk.

Ketika kita melepaskan beban pikiran kita, maka kadar stres kita mulai menurun. Kita beban pikiran kita sudah dilepaskan, kita langsung kembali kepada masa kini. Ketika kita fokus pada napas yang keluar masuk, ketenangan pun muncul (sulit dijelaskan, maka itu praktikkan saja). Di sanalah pikiran kita akan menjadi tenang dan jernih. Bagi beberapa orang, ketenangan ini membuat mereka lebih bahagia (karena sebenarnya mereka hanya cukup melepaskan kejadian yang tidak menyenangkan itu!), bagi sebagian orang lagi, ketenangan itu membuat mereka bisa memikirkan solusi permasalahan mereka dengan lebih baik. Itulah akhirnya mengapa meditasi dianggap berkhasiat.

Sayangnya, meditasi disalahkaprahkan, dianggap bisa menyelesaikan segala masalah kehidupan. Tentu sangat keliru! Bila anda memiliki masalah, hadapi masalahnya! Tapi jangan hadapi dengan pikiran yang kalut, tenangkan dan jernihkan dulu pikiran anda agar solusi yang dimunculkan adalah solusi yang win-win. Bagaimana cara menjernhikan pikiran? Ya bermeditasi.

Jadi, mau mencoba meditasi?

(Image: Meditation by Nina)

Pada saat tulisan ini dibuat, Pokemon Go sudah menjadi demam baru di dunia, bahkan Indonesia menjadi salah satunya. Uniknya, Pokemon Go sendiri sebenarnya belum dirilis secara resmi di Indonesia. Saya teringat kembali pada tahun 2000 awal, ketika saya sangat menggemari film kartun Pokemon dan mengoleksi berbagai merchandise-nya. Jika di kala itu Pokemon menjadi kegemaran anak-anak saja, maka sekarang Pokemon Go lebih ramah usia. Dewasa muda, remaja, hingga anak-anak sedang kegandrungan Pokemon.

Apa yang membuat Pokemon Go menarik? Tidak lain adalah karena teknologi augmented reality yang dihadirkan dalam permainan ini. Augmented reality atau "realitas tertambah" (demikian saya mengutip istilah dari Wikipedia) merupakan teknologi yang menggabungkan benda-benda maya ke dalam sebuah lingkungan nyata, dalam waktu yang nyata juga. Maka, permainan Pokemon Go tidak berlatar di sebuah kota khayalan di negri fiksi sana, namun di lingkungan nyata kita sendiri.

Muncul pro dan kontra dari hebohnya permainan Pokemon Go ini. Beberapa orang menganggap ini terobosan baru dalam dunia hiburan, namun beberapa lagi mengkritisi perilaku sebagian pemain yang tidak tepat. Di Amerika Serikat, terjadi kasus penodongan yang disebabkan oleh permainan Pokemon Go. Bahkan di Indonesia sendiri, Menkominfo sudah menyatakan tidak akan segan untuk memblokir Pokemon Go bila terjadi hal-hal yang melanggar aturan.

Sebenarnya, apa saja potensi manfaat maupun kerugian dari permainan Pokemon Go ini?

Video game dengan aktivitas fisik di luar ruangan
Selama ini video game dikritik karena kurang melibatkan aktivitas fisik, karena hanya dimainkan dalam posisi duduk sambil menatap layar, dengan tangan menekan tombol-tombol tertentu. Hal ini membuat aktivitas video game dikaitkan dengan kurangnya olahraga dan obesitas. Pokemon Go mendobrak anggapan ini. Menggabungkan video game dengan augmented reality, pemain harus bergerak dan menjelajahi lingkungan di sekitar mereka agar bisa menangkap pokemon-pokemon baru. Hal ini membuat mereka mau tidak mau harus bangkit dari tempat duduk, bergerak, dan berjalan-jalan untuk bermain video game. Maka, Pokemon Go menawarkan bermain video game dengan melibatkan aktivitas fisik di luar ruangan. Dan, diketahui bahwa aktivitas di luar ruang (outdoor) bisa membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis seseorang.

Meningkatkan aktivitas sosial
Pendapat ini banyak muncul di berbagai blog internasional. Pokemon Go mengharuskan permainnya untuk keluar dari ruangan dan menuju tempat publik agar bisa menangkap pokemon-pokemon tertentu. Saya membaca sebuah catatan di blog Berbahasa Indonesia bahwa ketika ia berada di Pantai Indah Kapuk, ada banyak kendaraan terparkir dan orang-orang berada di sana memegang ponselnya, beramai-ramai menangkap pokemon yang berada di sana. Ada yang merasa kesal karena berkali-kali gagal menangkap pokemon, ada yang mengungkapkan kegirangan karena berhasil menangkap pokemon, ada yang menyemangati temannya bermain, dan sebagainya. Di sinilah kontak sosial terjadi. Ketika mereka mengetahui bahwa mereka memiliki minat yang sama, yakni Pokemon Go, mereka kemudian akan mulai berbincang, membicarakan tips dan trik hingga pengalaman bermain GO. Atau, paling sederhana, ada yang saling menyemangati maupun menertawakan kegagalan mereka dalam menangkap pokemon. Anggapan bahwa video game membuat seseorang terisolasi dari kontak sosial pun tergeserkan.

Hal ini juga sangat membantu bagi orang-orang yang memiliki kecemasan berlebih ketika berada dalam lingkungan sosial. Biasanya, orang-orang dengan kecemasan sosial akan lebih sering mengurung diri berada di rumah karena menghindari kontak sosial dengan orang lain. Kecemasan dan ketegangan emosional akan meningkat bila mereka dipaksa untuk keluar rumah dan bertemu dengan orang lain. Bagi mereka, aktivitas sosial adalah hal yang menakutkan. Dengan Pokemon Go, mereka diarahkan untuk keluar rumah dengan cara yang menyenangkan. Dengan misi menangkap pokemon, mereka kemudian berjalan keluar rumah tanpa rasa cemas, dan mulai betemu dengan orang lain di luar sana. Setidaknya, hal ini membuat mereka terbiasa melihat dan bertemu dengan orang asing. Dan lebih baik lagi jika ia disapa oleh orang asing tersebut, mengajak berbicara mengenai Pokemon Go. Hal ini membuat penyandang kecemasan sosial merasa lebih diterima oleh lingkungan sosial, dan mematahkan pemikiran mereka selama ini bahwa lingkungan sosial selalu menakutkan.

Potensi Adiksi
Namun, masalahnya masih sama dengan video game lainnya, yakni daya tarik yang terlalu besar sehingga membuat pemainnya lebih menghabiskan banyak waktu untuk bermain daripada beraktivitas lain. Ketika adiksi terjadi, seseorang bisa saja melupakan aktivitas lainnya dan hanya berfokus pada permainan Pokemon Go. Di internet, beredar foto di sebuah kantor yang dindingnya bertempelkan imbauan Berbahasa Inggris agar karyawan fokus bekerja dan tidak bermain Pokemon Go. Atau, karena ketergantungan yang besar terhadap Pokemon Go, meski seseorang sudah berada di luar ruangan, ia tetap tidak berkomunikasi dengan orang lain dan fokus pada smartphone-nya. Bagaimanapun juga, adiksi terhadap aktivitas apapun memang tidak pernah bermanfaat. Hal ini juga yang dikhawatirkan oleh beberapa orang, karena permainan Pokemon Go yang saat ini sedang booming.

Kecelakaan Lalu Lintas
Karena terlalu asyik bermain Pokemon Go sambil menyetir mobil, seorang warga Amerika Serikat menabrak pohon dan mengalami luka. Terdapat juga gambar yang beredar di internet, sebuah jalan raya dengan imbauan agar pengendara tidak menyetir mobil sambil bermain Pokemon Go, guna menghindari kecelakaan. Meskipun belum terdapat laporan kecelakaan lalu lintas akibat Pokemon Go di Indonesia, namun potensi untuk terjadi tetap ada. Maka dari itu, diperlukan imbauan serta kesadaran dari setiap individu untuk menerapkan safety driving dan menghindari multitasking ketika berkendara, termasuk bermain Pokemon Go.

Nikmati dengan Bijaksana
Pokemon Go menjadi permainan dengan daya tarik yang tinggi, terbukti dari banyaknya pemain Pokemon Go yang tersebar di seluruh dunia. Bahkan, Pokemon Go menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak di-download di Google Play. Dengan efek menghiburnya, bermain Pokemon Go tentu memberikan kesenangan sendiri bagi pemainnya. Namun, bila dimainkan secara berlebihan dan tidak sesuai, maka akan memberikan bahaya. Bukankah apapun yang dilakukan berlebihan selalu tidak baik?


Beberapa pertanyaan yang sering saya terima adalah, "Kuliah S1 Psikologi bisa kerja apa?" Sebenarnya pertanyaan ini muncul karena banyaknya isu yang mengatakan bahwa jarang ada lowongan pekerjaan yang mencari lulusan S1 Psikologi. Selain itu, pertanyaan tersebut juga mungkin muncul karena biasanya lulusan S1 Psikologi akan mengambil S2 Psikologi lagi agar bisa praktik sebagai psikolog.

Meskipun S2 lebih baik daripada S1, tapi bukan berarti sarjana psikologi tidak bisa bekerja. Sebenarnya, ada banyak sekali lowongan kerja yang bisa dilamar oleh lulusan S1 Psikologi. Dari pengalaman saya ketika lulus S1 dulu, hampir semua teman saya berhasil mendapatkan pekerjaan, tanpa harus frustrasi mengirimkan CV dan lamaran ke sana-sini.

Jadi, pekerjaan apa saja yang bisa dijalani oleh lulusan S1 Psikologi?

1. HR (Human Resources)
Bagi sarjana psikologi yang ingin bekerja di kantor, bisa bekerja di bidang HR atau human resources atau sumber daya manusia. Istilah lain dari HR adalah personalia. Bila kamu masih freshgraduate alias baru lulus, biasa pangkat yang diperoleh adalah HR staff. Apa saja tugas HR? Di lapangan, terbagi lagi HR rekrutmen atau HR training. Sesuai namanya, HR rekrutmen berkaitan dengan mencari kandidat untuk perusahaan, menyortir CV yang masuk, mengatur jadwal rekrutmen, memberikan psikotes (terkadang melakukan interview juga), hingga melakukan negosiasi gaji dengan kandidat. HR training, tugasnya memberikan pelatihan kepada karyawan. Bisa diberikan oleh divisi training itu sendiri atau outsource dari luar. Selain kedua tugas tersebut, tugas HR yang lainnya biasanya adalah payroll (mengatur penggajian), kedisiplinan karyawan, terkadang HR juga digabung bersama GA. Apa itu GA?

2. GA (General Affairs)
Artinya adalah "Urusan Umum". GA ini memang tugasnya bersifat umum, seperti pengelolaan gedung, mengoordinasi cleaning service maupun security, pengadaan peralatan kantor, dan lain-lain. Terkadang, beberapa kantor menggabungkan HR dan GA sekaligus, agar lebih efisien. GA ini bisa diisi oleh lulusan S1 manapun, termasuk psikologi.

3. Konselor Sekolah / Guru BK
Jika kamu tidak berminat di bidang industri dan lebih ingin berkarir di bidang pendidikan, maka kamu bisa menjadi guru BK di sekolah. Tugasnya? Kamu tentu sudah tahu. Memberikan konseling kepada siswa, baik yang bermasalah atau tidak bermasalah. Selain itu, mengawasi kedisiplinan siswa juga bisa jadi menjadi tugas kamu sebagai guru BK. Kemudian, kamu juga bisa jadi ditugaskan untuk memberikan materi-materi pengembangan diri. Biasanya tes bakat minat juga dilakukan oleh guru BK, baik dilakukan sendiri atau mengundang psikolog dari lembaga lain.

4. Sales dan Marketing
Ingin pekerjaan yang lebih dinamis? Menjadi tenaga sales tentunya. Banyak teman-teman saya yang setelah lulus S1 Psikologi, terjun ke dunia penjualan. Apakah nyambung? Tentu saja, karena psikologi merupakan ilmu yang berkaitan dengan manusia, sehingga pengetahuan psikologi yang dimiliki bisa diterapkan dalam kegiatan sales maupun marketing.

Demikian 4 jenis pekerjaan yang bisa digeluti oleh seorang sarjana psikologi. Jadi, kamu bisa menghapuskan keragu-raguan kamu tentang prospek kerja di bidang psikologi. Tentu masih ada pekerjaan lain selain 4 bidang tersebut, saya hanya menuliskan yang paling umum saja. Kalau kamu masih ingin diskusi lebih lanjut tentang bidang pekerjaan lulusan psikologi, bisa comment di sini, nanti akan saya balas :)

Jadi, bidang pekerjaan psikologi mana yang cocok denganmu?


Pertanyaan "Saya ingin masuk psikologi, tapi tidak ingin S2, apa tidak apa-apa?" sering ditanyakan kepada saya. Tentu saja, biasanya ditanyakan oleh siswa SMA yang sedang memilih jurusan kuliah dan tertarik dengan psikologi, tetapi belum yakin dengan jurusan yang akan dipilihnya.

Salah satu pertimbangan orang enggan mengambil jurusan psikologi adalah karena ragu akan lapangan pekerjaan yang tersedia setelah lulus nanti (baca: Lulusan Psikologi Kerja Apa? soon). Sebenarnya, bagi yang ingin memilih jurusan psikologi, tidak perlu ragu dengan lapangan kerja yang tersedia, karena faktanya hampir semua teman-teman saya ketika lulus S1 langsung mendapat pekerjaan, kecuali yang memang mau menikah dulu atau langsung lanjut S2. Hal ini membuktikan bahwa lulusan psikologi masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

Keraguan lainnya, adalah karena informasi bahwa untuk menjadi psikolog, wajib mengambil S2 Psikologi, sedangkan S1 Psikologi hanya dianggap sebagai sarjana psikologi saja. Hal ini kemudian membuat galau, bagaimana jika hanya ingin S1 Psikologi tanpa lanjut ke S2?

Pertama-tama, saya akan menjawab dulu, bahwa tidak harus mengambil S2 bila ingin berkarir di dunia psikologi. Memang, dengan lulus S2, kita akan mendapatkan sebutan psikolog (syaratnya harus S1 psikologi & S2 psikologi), tapi tanpa lulus S2 pun kita bisa tetap bekerja di bidang psikologi. Setelah kamu lulus S1, kamu masih bisa bekerja sebagai HRD atau Training (di perusahaan), konselor atau guru BK (di sekolah), atau asisten psikolog (di klinik atau biro psikologi). Pengalaman saya, sebagian besar teman-teman saya berkarir sebagai HRD setelah lulus kuliah. Sebagian lagi di training, sebagian lagi di sekolah.

Lalu, apa benefit-nya S2?

Bila kamu lulusan S1 Psikologi, kamu bisa mengambil program Magister Psikologi Profesi, yang nanti setelah lulus kamu akan mendapatkan gelar S2 sekaligus gelar Psikolog. Hal ini khusus hanya bisa diperoleh oleh lulusan yang berasal dari S1 Psikologi juga. Jadi kalau S1-nya dari jurusan lain dan S2-nya Psikologi, maka gelarnya adalah "Magister Sains". Tentu saja, jika kamu sudah menjadi psikolog, kamu bisa membuka layanan psikologi kamu sendiri.

Tapi, apakah harus S2?

Tentu saja tidak. Sesuaikan dengan kebutuhan kamu :) S1 Psikologi saja sudah bisa bekerja di perusahaan maupun sekolah, dengan gaji yang setara karyawan berpendidikan sarjana lainnya tentunya. Tapi, kalau kamu bisa mengambil kesempatan untuk pendidikan yang lebih tinggi, kamu harus mempertimbangkan untuk mengambil S2.

Kalau kamu masih ingin bertanya tentang kuliah psikologi, kamu bisa follow instagram saya @garvingoei. Di sana kita bisa ngobrol lebih banyak :)


Di wordpress saya, banyak sekali pembaca remaja yang bertanya, apakah ia cocok kuliah psikologi? Memang, jurusan psikologi bukanlah jurusan yang populer seperti IT atau akuntansi sehingga baik orang tua maupun diri sendiri menjadi ragu ketika ingin mengambil psikologi sebagai jurusan kuliah. Ada banyak keraguan yang muncul, mulai dari takut kuliahnya terlalu sulit, takut tidak cocok dengan jurusan tersebut, takut tidak ada lowongan pekerjaan setelah lulus kuliah, sampai takut harus lanjut S2 bila sudah terlanjur masuk S1 psikologi.

Mari buang ketakutan tersebut. Banyak sekali teman maupun kenalan saya yang hanya mengambil S1 psikologi dan bisa bekerja. Baca di sini: apakah kuliah psikologi harus sampai S2?

Kuliah psikologi memang tidak mudah, tapi bukan berarti sulit. Buktinya, banyak juga lulusan psikologi yang lulus tepat waktu dengan IPK yang memuaskan. Mata kuliahnya memang menarik, ada pemahaman teori, ada hitung-hitungan (Statistik dan Psikometrika), sampai praktikum langsung (Konseling dan Assessment Psikologi). Jika kamu memang berminat di psikologi, selama kamu mau berkomitmen untuk kuliah dengan serius, maka kamu pasti bisa lulus dengan tepat waktu di jurusan psikologi.

Secara garis besar, jika kamu memang senang bertemu dengan orang lain dan senang mendengarkan keluh kesah pengalaman seseorang, maka bisa jadi kamu cocok dengan kuliah psikologi, karena sepanjang kuliah psikologi, tugas-tugasmu akan berkaitan dengan orang lain. Misalnya, mewawancarai orang, mengobservasi, hingga melakukan administrasi psikotes.

Daripada bingung, mungkin tes non-formal ini bisa membantu kamu. Tes ini bukanlah tes resmi psikologi, namun kamu bisa mencobanya untuk sekadar mengetahui apa kamu ada cocok untuk kuliah psikologi. Coba isi ke-12 pernyataan di bawah ini, sesuai dengan yang paling tepat dengan kamu; apakah kamu setuju, biasa saja, atau tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Misalnya:
- Saya merasa saya senang mengikuti kegiatan berkemah.
   (Setuju / Biasa Saja / Tidak Setuju)

Jika kamu merasa tidak setuju dengan pernyataan di atas (dan kamu tidak senang berkemah), maka kamu mengisi: tidak setuju.

Ingat, pilih jawaban yang paling sesuai dengan diri kamu! Karena hasil dari tes ini untuk kamu juga.

1. Saya senang mendengarkan keluh-kesah teman saya mengenai kehidupannya sehari-hari. (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

2. Saya merasa bahwa teman-teman saya sering mencari saya untuk meminta nasihat atas masalah mereka. (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

3. Saya senang memelajari segala sesuatu tentang kejiwaan manusia. Tentang mengapa seseorang melakukan suatu tindakan, atau mengapa seseorang bisa menyimpan perasaan tertentu di dalam dirinya. (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

4. Saya senang ketika bisa membantu orang lain. (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

5. Saya merasa nyaman berada di dekat banyak orang. (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

6. Saya merasa nyaman meskipun harus berada di dekat orang yang sedang bersedih atau marah.  (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

7. Saya merasa lelah ketika harus bertemu dengan banyak orang.  (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

8. Saya tidak suka membaca buku-buku tentang psikologi.  (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

9. Saya merasa diri saya cuek terhadap orang lain.  (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

10. Saya tidak suka mendengarkan cerita orang lain.  (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

11. Saya merasa tidak percaya diri untuk berbicara secara 4 mata dengan orang lain.  (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

12. Saya tidak suka bila harus menghadapi orang yang sedang sedih. Lebih baik saya menjauh darinya.  (Setuju  |  Biasa Saja  |  Tidak Setuju)

Sudah? Sekarang mari kita nilai hasil jawaban kamu.

Untuk soal no.1-6
Beri skor 2 untuk jawaban setuju
Beri skor 1 untuk jawaban biasa saja
Beri skor 0 untuk jawaban tidak setuju

Untuk soal no.7-12
Beri skor 0 untuk jawaban setuju
Beri skor 1 untuk jawaban biasa saja
Beri skor 2 untuk jawaban tidak setuju

Lalu, jumlahkan semua skor kamu

Bila kamu:

Berada pada skor di antara 18 - 24: kamu cocok untuk kuliah psikologi.
Berada pada skor di antara 9 - 17: kamu cocok kuliah psikologi, tapi perlu sedikit usaha lebih.
Berada pada skor di antara 0 - 8: kamu sepertinya perlu mempertimbangkan ulang sebelum memilih jurusan psikologi.

Tentu saja, tes di atas bukanlah tes resmi psikologi, jadi jangan kamu jadikan pertimbangan satu-satunya dalam memilih jurusan psikologi. Pikirkan lagi aspek lain seperti bakat, minat, dan kepribdaian kamu. Meminta saran kepada orang-orang terdekat kamu juga ide yang baik. Jika kamu benar-benar ingin tahu di mana letak bakat dan minat kamu, kamu bisa menghubungi psikolog terdekat.

Bagaimana dengan hasilmu? Kalau kamu ingin diskusi lebih jauh, silakan follow instagram saya @garvingoei :)

Foto: Learning oleh CollegeDegrees360


Saya adalah orang yang sering mengonsumsi kafein. Singkatnya, 2 gelas kopi dan 4 gelas teh sehari adalah hal yang biasa bagi saya. Bahkan, saya harus meminum secangkir kopi di pagi hari agar semangat beraktivitas. Agar konsumsi gula saya tidak berlebih, saya selalu meminum kopi dan teh tanpa gula. Toh bukan rasa manisnya yang saya incar, tapi aroma dan kesegarannya. Kebiasaan ini sudah mulai sejak masih kuliah S1, mungkin karena sering harus bergadang hingga subuh dan paginya harus belajar lagi di kelas. Daripada mengantuk, lebih baik konsumsi kafein. Kebiasaan ini berlangsung hingga sekarang.

Sudah 5-6 tahun kebiasaan mengonsumsi kafein dalam jumlah yang banyak dalam sehari, dan selama itu tidak ada masalah apapun. Orang-orang juga terbiasa melihat saya mengonsumsi kopi dan teh dalam jumlah yang banyak. Memang sesekali ada orang menasihati, tapi bagi saya niat baik tersebut hanya sekadar masuk telinga lalu pergi. Lagipula, saya tidak merasa rugi kok, begitu pikir saya saat itu.

Tapi perlahan-lahan, muncul keinginan untuk berhenti minum kopi. Bukan berhenti mengonsumsi kafein, tapi berhenti minum kopi. OK, bagi yang belum tahu apa bedanya berhenti minum kopi dan mengonsumsi kafein, jadi begini, kafein itu zat yang bisa ditemui dalam beberapa minuman: kopi, teh, atau minuman bersoda. Saya mendapatkan kafein dari kopi dan teh. Berhenti mengonsumsi kafein berarti saya akan berhenti meminum keduanya, kopi dan teh. Sedangkan berhenti meminum kopi, maksudnya saya hanya berhenti ngopi, tapi tetap minum teh.

Kafein tidak buruk, tapi kandungan kafein dalam kopi cukup banyak dibandingkan dengan teh. Melihat kebiasaan minum kopi dan teh yang diluar batas (2 gelas kopi dan 4 gelas teh per hari, kadang lebih), saya mulai berpikir untuk memangkas sebagian besar asupan kafein saya, mengingat ada banyak masalah yang bisa ditimbulkan oleh konsumsi kafein secara berlebih, yaitu:

1. Kecanduan dan Toleransi
Anda pasti sudah tahu bahwa mengonsumsi kafein bisa menimbulkan kecanduan serta toleransi. Semakin anda sering meminum kopi, maka tubuh akan semakin tidak merasakan efeknya sehingga anda harus meminumnya lebih banyak. Masalahnya, mengonsumsi kafein secara berlebih tidak baik untuk kesehatan. Saat ini saya berpikir, jika saya membutuhkan 2 gelas kopi dan 4 gelas teh per harinya, tentu pada 2-3 tahun ke depan dosis tersebut akan saya tingkatkan, dan saya tahu itu tidak baik. Saya pernah mendengar kisah dari seorang teman yang mengonsumsi kopi hingga 8 gelas per harinya selama bertahun-tahun, dan akhirnya ia mengalami masalah dengan organ ginjalnya.

2. Mengganggu Penyerapan Kalsium
Kafein bisa mengganggu penyerapan kalsium dan zat mineral dalam tubuh, sehingga akan berdampak pada kesehatan tulang dan gigi ke depannya. Sebenarnya, hal ini bisa diakali dengan mengonsumsi kafein 1-2 jam sebelum dan sesudah makan, tapi tentu bagi pecandu kopi, sangat sulit menahan keinginan untuk minum kopi. Saat ini saya memang belum merasakan dampak kafein terhadap penyerapan kalsium dalam diri saya, tapi saya tidak ingin menyesal ketika masalah sudah terjadi. Untuk itu, saya memutuskan untuk mulai membatasi minum kafein.

3. Stres dan Kecemasan
Kafein bisa meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Bagi yang belum familiar, kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh tubuh ketika kita sedang merasa stres. Sebenarnya kortisol tidak begitu buruk, ia dikeluarkan oleh tubuh kita di pagi hari agar kita bisa bangun dari tidur dan terjaga. Tapi, bila tubuh kita mengeluarkan kadar kortisol secara berlebihan (karena konsumsi kafein berlebih), tentu tidak akan menjadi hal yang baik. Lagi-lagi hal ini belum saya rasakan secara langsung, tapi lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Selain itu, saya juga khawatir dampak kafein berlebih terhadap aspek lain dalam kesehatan, misalnya risiko penyakit jantung, insomnia, dan lain-lain. Akhirnya saya memutuskan untuk memangkas asupan kafein per hari, dengan sebuah keputusan: berhenti minum kopi (saja). Mengapa kopi, bukan teh? Pertama, kandungan kafein kopi jauh lebih banyak daripada kandungan kafein dalam teh. Saya pikir, memangkas dosis 2 cangkir kopi per hari bisa memangkas lebih dari 50% asupan kafein yang selama ini saya konsumsi. Kedua, bagaimanapun juga, saya memiliki jadwal yang sangat padat setiap harinya, sehingga saya tetap butuh sedikit kafein untuk meningktakan produktivitas, meskipun berhenti minum kopi, saya tetap bisa mendapat sedikit asupan kafein dari teh. Ketiga, saya sangat menggemari teh. Mengoleksi teko teh dan mencoba teh-teh baru setiap bulannya adalah aktivitas yang menyenangkan bagi saya. Dari teh, saya belajar banyak tentang budaya. Saya rasa hal ini menyenangkan dan sayang bila harus dihentikan.

Keputusan sudah dibuat: berhenti minum kopi.

Saya sudah menjalankannya selama 2 minggu. Awalnya, tidak seberat yang dibayangkan. Di pagi hari, saya cukup minum teh hitam agar efek withdrawal dari berhenti minum kopi tidak terlalu terasa. Namun saya baru menyerah dan meminum kopi beberapa hari belakangan, mengapa? Saya baru menyadari efeknya begitu terasa ketika saya harus mengajar di pagi hari. Biasanya saya bisa mengajar dengan semangat, namun ketika saya tidak meminum kopi, semangat saya tidak sekuat sebelumnya dan terasa lemas. Hal ini membuat saya mengkhawatirkan proses belajar mengajar akan kurang maksimal. Kemudian, biasanya setelah mengajar saya masih bisa melakukan aktivitas lain. Tapi sejak berhenti minum kopi, saya semakin membutuhkan waktu lebih banyak untuk beristirahat. Jadinya, beberapa hari ini saya minum kopi sebelum mengajar agar bisa mengajar dengan semangat dan tidak perlu menambah waktu istirahat. Tapi lagi-lagi, saya harus berhenti minum kopi, demi kesehatan saya sendiri.

Ternyata berhenti minum kopi tidak mudah, apalagi bila sudah saya jalani kebiasaan ini selama bertahun-tahun. Rasanya harus ada strategi khusus untuk melakukan hal ini. Saya sudah riset sedikit demi sedikit tentang cara terefektif untuk berhenti minum kopi. Hasilnya? Mari kita tunggu laporan dari saya beberapa minggu ke depan :)

Doakan!



Memasuki pertengahan Juni 2016, menandakan sudah hampir 3 bulan saya bekerja sebagai dosen tetap di Universitas Bunda Mulia. Sebelum menjadi dosen, saya masih berstatus mahasiswa magister yang mencari uang secara freelance. Mengajar bimbel, mengadministrasikan psikotes, MC, hingga narasumber seminar untuk sekolah, semua kegiatan tersebut menghasilkan uang yang saya gunakan untuk membiayai pendidikan S2 saya. Meski sudah terbiasa kuliah sambil bekerja, namun ada perbedaan yang drastis ketika masa-masa saya kuliah dengan full time working saat ini, yaitu: bangun pagi.

Karena saya kuliah dari pagi hingga sore, maka sebagian besar pekerjaan yang saya ambil ada di malam hari, atau bila pagi hari, di hari libur. Kuliah biasanya dimulai jam 9 atau jam 10 pagi, sehingga saya biasanya bangun jam 7 pagi untuk bersiap-siap kuliah. Selama 6 tahun (S1 dan S2) saya menjalani rutinitas seperti ini, hingga akhirnya ketika saya diterima sebagai dosen, saya harus memiliki kebiasaan baru: bangun tidur di jam 5 atau 6 pagi. Hal ini berarti saya harus bangun 2 jam lebih awal dari jam bangun rutin saya selama 6 tahun belakangan.

Bagi sebagian orang, membentuk kebiasaan bangun pagi adalah hal yang sulit. Mungkin tidak berlebihan jika salah satu kemalasan yang paling sulit dilawan adalah kemalasan untuk bangun di pagi hari. Terkadang tubuh rasanya masih ingin menikmati kehangatan di balik selimut dan memejamkan mata, namun kita tahu bahwa kita harus segera bangun untuk beraktivitas. Awalnya memang terasa berat dan meletihkan, namun perlahan-lahan kita pasti bisa terbiasa untuk bangun pagi.

Beberapa minggu pertama, saya memang mengalami kesulitan untuk bangun pagi. Bahkan, saya sudah terlambat di hari ke-10 saya bekerja. Bangun pagi memang bukan keahlian saya, yang lebih cenderung nokturnal. Bagaimana saya berusaha agar bisa terbiasa bangun di pagi hari? Berikut tips yang bisa saya berikan:

1. Tidur dan Bangun di Jam yang Sama
Dalam tubuh kita, terdapat jam biologis yang mengatur jam tidur dan bangun kita, atau yang dikenal sebagai irama sirkadian. Ketika jam tidur kita tiba, secara otomatis kita akan mengantuk; demikian juga ketika jam bangun kita tiba, maka tanpa dibangunkan pun kita akan terbangun secara otomatis. Jika anda sudah terbiasa bangun pagi di hari Senin-Jumat pada jam tertentu, maka pada hari Sabtu-Minggu pun anda pasti akan cenderung bangun di jam yang sama, padahal anda tidak menggunakan alarm. Hal ini karena tubuh anda sudah terbiasa aktif kembali pada jam tersebut sehingga tanpa alarm atau dibangunkan sekalipun, tubuh anda tahu bahwa ia harus bangkit dari tidur. Kabar baiknya, jam biologis ini sebenarnya bisa kita program. Caranya? Dengan tidur dan bangun tidur di jam yang sama, setiap hari, secara konsisten. Saya mencoba untuk konsisten tidur pada jam 11 malam dan bangun pada jam 5.30 pagi. Awalnya memang sulit untuk terlelap karena saya sudah terbiasa tidur subuh, namun saya harus membiasakan diri untuk hal ini. Kini, secara otomatis saya akan mengantuk pada jam 11 malam dan terbangun sekitar jam 5 hingga 6 pagi (kecuali bila sedang kelelahan). Menurut penelitian, kebiasaan akan terbentuk ketika kita secara konsisten melakukannya selama 21 hari. Maka, cobalah untuk tidur dan bangun di jam yang sama secara konsisten setidaknya selama 21 hari, sehingga jam biologis anda terbentuk.

2. Pastikan Kecukupan Jam Tidur
Meskipun anda sudah tidur dengan pola yang konsisten, tapi bila jam tidur anda kurang, maka anda tetap akan terbangun dalam kondisi lemas. Idealnya memang 8 jam per hari, namun rasanya agak sulit untuk menyiapkan waktu 8 jam untuk tidur. Saya sendiri berusaha agar tidak tidur kurang dari 5 jam per hari. Ada riset yang mengatakan bahwa setidaknya kita memerlukan waktu 6 jam sehari untuk tidur agar tetap bugar. Jika anda masih sering tidur kurang dari 6 jam, mulailah untuk menyediakan setidaknya 6 jam sehari untuk tidur. Pangkaslah kegiatan yang sebenarnya tidak penting, misalnya bermain internet atau menonton TV di malam hari. Saya sendiri memangkas jam bermain internet dan membaca buku di malam hari agar bisa mendapatkan 6 - 7 jam untuk tidur, atau sekurang-kurangnya 5 jam.

3. Pasang Alarm dan Jauhkan dari Jangkauan
Salah satu kebiasaan buruk kita ketika dibangukan oleh alarm adalah mencoba untuk "bernegosiasi" dengan waktu. Ketika alarm berbunyi, kita sering menekan tombol snooze dan berjanji akan bangun 10 menit lagi, namun kenyataannya kita akan menekan tombol snooze berkali-kali hingga berada pada waktu yang sangat kepepet untuk bangun. Agar anda bisa bangun pagi tanpa melalui proses yang tidak bermanfaat ini, letakkan alarm jauh dari jangkauan anda, sehingga ketika alarm berbunyi di pagi hari, mau tidak mau kita harus bangkit dan mematikan alarm tersebut. Ketika sudah bangkit, tentu kita sudah malas untuk tidur lagi. Sederhana namun bermanfaat.

4. Tidur Berkualitas
Saya pernah bertanya kepada seorang dokter, berapa jam tidur yang pas dalam sehari. Sang dokter menjawab, bukan masalah kuantitasnya tapi kualitasnya. Agar bisa bangun pagi dengan segar, kita perlu memiliki tidur yang berkualitas. Hindari kafein menjelang jam tidur. Saya pribadi, meskipun sangat gemar dengan kafein, menghindari minum kopi ketika waktu sudah menyentuh jam 5 sore. Kafein bisa merusak kualitas tidur kita. Jika anda benar-benar ingin minum kopi di malam hari, gantilah dengan teh. Teh hijau dan teh putih memiliki kandungan kafein yang paling rendah dibandingkan jenis teh lainnya. Atau, yang terbaik adalah meminum seduhan chamomile.

Selain menghindari kafein, cara untuk mendapatkan tidur yang berkualitas adalah mematikan lampu segelap mungkin ketika tidur. Nyala lampu sebenarnya bisa mengganggu irama sirkadian di dalam tubuh kita. Untuk itu, biasakan agar terlelap dalam kondisi gelap. Hindari juga melakukan aktivitas berat sebelum tidur seperti berolahraga.

Kelima cara di atas saya lakukan secara konsisten agar bisa bangun pagi. Awalnya memang berat, seringkali saya terbangun dalam keadaan lemas dan tertidur kembali di kamar mandi di atas kloset (hehehe...). Namun bila kita menyerah, maka selamanya kita tidak akan berubah. Buatlah tekad untuk menjalankannya setiap hari dan secara konsisten hingga bangun pagi menjadi sebuah kebiasaan. Pada akhirnya, saya yang nokturnal ini akhirnya memiliki kebiasaan bangun pagi, termasuk di akhir pekan.

Target selanjutnya: rutin berolahraga setiap hari. Doakan!

Sumber gambar: morning oleh Caroline


Apakah kamu percaya bahwa kata-kata yang kita gunakan dapat memengaruhi kehidupan dan kesuksesan kita? Steve Siebold, penulis buku "How Rich People Think" mewawancari ribuan jutawan selama lebih dari 30 tahun dan menyimpulkan bahwa ada 7 kalimat yang tidak pernah diucapkan oleh orang-orang sukses. Apa saja sih, ke-7 kalimat tersebut?

1. "Saya benci pekerjaan saya!"
Kalimat sejenis: "Saya benci perusahaan ini," "Bos saya tidak becus"
Orang sukses berani bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan hidupnya sendiri. Mereka tidak menyalahkan orang lain atas kesulitan-kesulitan dalam hidup mereka. Terlebih lagi, mereka juga tidak terpengaruh oleh lingkungan luar yang negatif. Ketika menghadapi masalah, orang sukses tidak mencari kambing hitam, mereka justru mencari cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.

2. "Ini tidak adil!"
Kalimat sejenis: "Saya pantas mendapatkan yang lebih baik"
Orang sukses tidak pernah membandingkan dirinya dengan orang lain. Menurut mereka, hidup ini memang tidak harus selalu adil. Beginilah hidup. Mereka tidak akan berkeluh-kesah tentang hal ini. Bagi orang sukses, keberhasilan bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang membutuhkan usaha. Lagipula, jika memang layak mendapatkan lebih, orang sukses akan menunjukkannya dengan tindakan, bukan dengan mengeluh dan berharap keajaiban terjadi.

3. "Seharusnya tidak begini!"
Kalimat sejenis: "Biasanya dilakukan seperti ini, kok"
Apa kesamaan dari orang-orang sukses? Inovasi. Mereka tidak pernah sungkan untuk memelajari hal baru dan tidak takut untuk keluar jalur dari cara-cara konvensional. Tanpa hasrat yang kuat terhadap inovasi dan kreativitas, Steve Jobs tidak akan pernah menemukan iPhone dan iPad, yang akhirnya mengubah dunia. Jobs pernah berucap, "Inovasi-lah yang membedakan antara seorang pemimpin dengan seorang pengikut."

4. "Ini bukan tugas saya"
Kalimat sejenis: "Bukan urusan saya," "Saya tidak mendapatkan bayaran yang cukup untuk melakukan ini"
Jika anda benar-benar sukses, anda tidak akan ragu untuk membantu kesuksesan orang lain. Kesuksesan memerlukan kerjasama. Kita membutuhkan satu sama lain. Egois bukanlah sifat orang sukses.

5. "Itu tidak mungkin"
Kalimat sejenis: "Ini mustahil," "Aku tidak bisa melakukannya"
Orang sukses tahu bahwa batasan hanyalah ciptaan pikiran. Orang sukses tidak mengeluhkan rintangan atau halangan, mereka justru mencari cara untuk melewatinya dengan kreativitas mereka. Kata-kata seperti "tidak bisa", "tidak akan", dan "mustahil" tidak akan pernah muncul dari mulut orang sukses. Mereka paham betul, bahwa mengeluh tidak akan menolong.

6. "Sebenarnya saya bisa saja"
Kalimat sejenis: "Seharusnya saya bisa," "Seharusnya saya mampu melakukannya"
Orang sukses tidak akan pernah menyesali masa lalu. Hal ini karena 2 alasan: (1) mereka selalu mengambil kesempatan, tanpa peduli kemungkinannya; atau (2) mereka selalu bergerak dan mencari kesempatan-kesempatan yang menanti. Penyesalan tidaklah berarti.

7. "Saya tidak mempunyai pilihan"
Kalimat sejenis: "Tidak ada pilihan lain," "Saya hanya bisa melakukan ini"
Orang sukses selalu berpikir bahwa pilihan dan kesempatan selalu ada di tangan mereka, dan mereka tahu bagaimana menciptakan kesempatan. Lagipula, dengan berpikir bahwa kita tidak memiliki pilihan, menunjukkan bahwa kita tidak lebih tanggun dibandingkan lingkungan kita.


Jadi, kalimat-kalimat mana yang akan segera kamu hilangkan dari hidupmu?

Sumber gambar:


Saya yakin, sebagian besar dari kamu pasti sudah pernah mendengar nama Walt Disney. Ia adalah pendiri dari studio animasi terbesar di dunia yang melegenda. Kamu juga pasti sudah familiar dengan film-film animasi beserta tokoh-tokoh komiknya, seperti Mickey Mouse, Donal Bebek, Paman Gober, Putri Salju, Winne the Pooh, sampai Big Hero 6. Karya-karya Walt Disney selalu laris manis di pasaran dan dicintai oleh penontonnya. Kita setuju, bahwa Walt Disney adalah salah satu orang yang paling berpengaruh dalam dunia hiburan di abad ke-20.

Sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam dunia hiburan, Walt Disney sering dipuji dan dikagumi karena kreativitasnya dalam berkarya. Beberapa orang menjadikannya sosok panutan dalam hal kreativitas. Hal inilah yang akhirnya membuat Robert Dilts, salah satu tokoh NLP, berusaha untuk mencari tahu "resep" kreatif dari Walt Disney dan akhirnya menemukan sebuah rumusan yang disebut dengan "Strategi Kreatif Disney". Metode ini bisa kamu gunakan untuk menciptakan dan merumuskan berbagai macam ide, bahkan untuk menemukan berbagai solusi dalam pemecahan masalah.

Apa langkah-langkah untuk mempraktikkan "Strategi Kreatif Disney"?

1. Menjadi Sang Pemimpi
Bayangkan atau visualisasikan kamu adalah seorang individu yang memiliki banyak sekali ide-ide kreatif. Seringkali, ide-ide tersebut sudah muncul di dalam pikiranmu, namun enggan untuk diungkapkan karena takut akan ditolak. Kali ini, buanglah kekhawatiran tersebut dan ciptakanlah ide sebebas mungkin. Tidak ada batasan untuk mencetuskan ide. Keluarkan semua visi, mimpi, maupun gagasan yang muncul. Ungkapkan hal tersebut dalam secarik kertas. Tuliskan semua.

Untuk membantu kamu dalam menciptakan ide-ide, pertanyaan di bawah mungkin bisa membantu:

- Apa yang kamu inginkan?
- Apa solusinya?
- Bagaimana menemukan solusinya?

Ciptakanlah sebanyak mungkin ide. Kamu adalah seorang pemimpi, maka dari itu tidak ada batasan apapun dalam mencetuskan gagasan. Catat sebanyak-banyaknya.

2. Menjadi Sang Realistis
Kini kamu berganti peran, dari sang pemimpi menjadi sang realistis. Jika tadi kamu mengandalkan imajinasi kamu sebebas-bebasnya, kini kamu menjadi seseorang yang logis. Dari ide-ide yang sudah kamu catat pada tahap pertama tadi, tugas kamu sebagai seorang realistis adalah menyusun langkah-langkah praktis untuk merealisasikan ide-ide tersebut. Anggaplah semua ide tersebut mungkin untuk diwujudkan dalam dunia nyata. Tuliskan cara-cara praktis dan nyata untuk membuat ide tersebut terwujud.

Pertanyaan di bawah ini mungkin bisa membantu:
- Bagaimana menerapkan ide ini?
- Apa langkah yang harus dilakukan?
- Bagaimana prosesnya?

Buatlah langkah nyata untuk mewujudkan ide-ide tersebut, sepraktis mungkin.

3. Menjadi Sang Kritikus
Di tahap ketiga, kamu berganti peran dari sang realistis menjadi sang kritikus. Tugas dari sang kritikus adalah mengungkapkan penghalang-penghalang dalam merealisasikan ide tersebut dan cara untuk mengatasinya. Masukan-masukan kritis perlu diungkapkan agar kamu bisa menemukan kelemahan dari ide tersebut dan menyelesaikannya. Jadilah sekritis mungkin. Pertanyaan di bawah ini mungkin bisa membantu:

- Apakah ada yang salah dengan ide ini?
- Apa yang kurang?
- Kenapa tidak bisa diaplikasikan?

Temukan Ide Kreatifmu
Lakukan ketiga langkah tersebut, maka kamu akan menemukan ide yang sudah melewati ketiga tahap: pemimpi, realistis, kritikus. Mungkin ada ide-ide yang harus dibuang, namun pasti juga ada ide yang bertahan. Ide-ide yang bertahan tersebut sudah melewati tahapan realistis sehingga kamu sudah memiliki langkah nyata untuk mewujudkannya. Selain itu, ide yang bertahan itu juga sudah melewati proses review dari sang kritikus, sehingga kelemahan dan kekurangan yang ada sudah diprediksi dan ditemukan solusinya. Kini, idemu menjadi lebih konkret dan lengkap.

Langkah terakhir, sekaligus pertanyaan setelah kamu melewati ketiga tahap tersebut: kapan kamu akan segera memulai untuk mewujudkan idemu tersebut?

Metode ini tidak hanya bisa dipraktikkan sendirian, kamu juga bisa melakukannya secara berkelompok dan bersama-sama melewati ketiga tahap tersebut. Pasti akan semakin banyak ide serta masukan yang muncul.

Ayo dicoba, dan tuliskan hasilnya di kolom komentar :)

Sumber gambar:
"Storytellers Statue" oleh Sam Howzit sesuai dengan izin CC BY 2.0

Dalam tulisan sebelumnya, saya sudah membahas secara singkat mengenai gambaran fobia (phobia). Sebagai salah satu gangguan kecemasan yang paling umum muncul pada populasi manusia, tentu banyak yang mempertanyakan, bisakah fobia dihilangkan atau disembuhkan? Sama seperti gangguan kecemasan lainnya, fobia dapat disembuhkan bila diberikan penanganan yang tepat. Akan lebih baik bila anda menghubungi jasa layanan kesehatan mental seperti psikolog, sehingga anda bisa mendapatkan terapi yang tepat. Namun bila anda ingin mencoba mengatasi fobia anda sendiri sebelum menemui psikolog, maka anda bisa mencoba cara di bawah ini. Ingat bahwa fobia berasal dari kecemasan dan ketakutan yang tidak masuk akal terhadap suatu obyek.

1. Dekati obyek fobia anda dengan pelan-pelan
Berbagai hasil riset menyarankan bahwa cara paling efektif terhadap fobia adalah menghadapkan manusia dengan obyek fobianya. Namun saya bisa memahami bahwa hal tersebut memang terasa menakutkan. Untuk itu, anda bisa mencoba mendekati obyek fobia anda secara bertahap. Misalkan, anda fobia terhadap karet gelang, maka anda bisa mencoba untuk menatap karet gelang dari jarak yang jauh selama beberapa detik. Kemudian, anda bisa mencoba mengambil beberapa langkah ke depan agar lebih dekat dengan karet gelang tersebut. Tatap kembali selama beberapa detik. Maju lagi agar anda lebih dekat. Bila anda merasa kecemasan anda sudah tinggi, anda bisa mencoba menarik nafas terlebih dahulu untuk merilekskan diri anda. Bila perlu, anda juga bisa beristirahat dulu dan melanjutkannya ketika anda sudah kembali tenang dan siap melanjutkannya (boleh di hari yang sama atau di hari yang berbeda). Begitu terus hingga akhirnya anda bisa menyentuh karet gelang tersebut.

Berapa waktu yang diperlukan agar berhasil? Tergantung kepada derajat kecemasan dan niat anda untuk sembuh. Bisa saja memerlukan waktu sehari, bisa juga hingga berhari-hari. 

2. Menghadapi Gambar atau Rekaman dari Obyek Fobia
Bagi beberapa orang, menghadapi obyek fobianya secara nyata mungkin terasa terlalu mencemaskan. Bila demikian, maka anda bisa mencoba mengganti obyek nyata dengan gambar atau rekaman. Misalkan, seorang pemuda memiliki fobia terhadap anjing dan ia merasa cemas sekali ketika harus melihat anjing secara nyata, maka ia bisa mencoba mengatasi fobianya dengan menatap gambar atau foto anjing terlebih dahulu. Secara perlahan dan bertahap, coba untuk menatap gambar anjing hingga berani menyentuh gambar tersebut. Bila kecemasan sudah dirasa terlalu tinggi, anda bisa beristirahat dulu kemudian melanjutkannya ketika anda sudah siap kembali. Lakukan hingga anda sudah merasa tenang ketika menyentuh gambar obyek fobia anda.

Bagaimana setelah sudah berhasil? Maka anda tetap harus menghadapi obyek fobia anda secara nyata, sama seperti cara pada nomor 1. Teknik ini mungkin memakan waktu, namun efektif dalam mengatasi fobia.

3. Menghubungi Psikolog Klinis Terdekat
Anda merasa bahwa anda masih belum berhasil untuk mengatasi fobia anda? Maka anda perlu menghubungi psikolog klinis untuk membantu anda. Seoang psikolog memiliki berbagai keterampilan yang dapat membantu anda untuk mengatasi fobia anda. Anda tidak akan langsung dihadapkan dengan obyek fobia anda dari dekat, melainkan anda akan diberikan beberapa pembekalan terlebih dahulu sehingga anda berani untuk berhadapan dengan obyek fobia anda. Penanganan yang diberikan bervariasi antar psikolog, namun biasanya pola pikir anda yang tidak rasional terhadap obyek fobia tersebut akan diatasi terlebih dahulu, biasanya dikenal dengan istilah cognitive restructurizing. Apakah psikolog juga menggunakan hipnoterapi? Tergantung. Yang pasti, kami akan menggunakan teknik terapi yang paling cocok dengan anda.

Namun anda perlu mengetahui bahwa tidak ada terapi instan yang dapat menyembuhkan fobia anda selama sekian detik atau dengan sekali tatap muka saja. Riset menunjukkan bahwa tidak ada satupun teknik terapi yang dapat menyembuhkan fobia dalam hitungan detik, sehingga bila ada terapis di luar sana yang mengaku dapat menyembuhkan fobia anda dalam waktu kurang dari 30 menit, maka anda perlu mempertanyakan kembali hal tersebut. Memang, hipnoterapi maupun teknik NLP dapat membuat kecemasan anda berkurang dalam waktu singkat, namun hal tersebut tidak menyembuhkan fobia secara instan. Anda hanya merasakan kelegaan dan penurunan tingkat kecemasan, namun hal tersebut tidak bertahan lama. Perlu beberapa pertemuan kembali sebagai penguatan, agar fobia anda benar-benar hilang.

Logikanya, bila fobia tersebut sudah ada pada diri anda selama bertahun-tahun, maka tidak mungkin fobia tersebut akan hilang dalam waktu kurang dari 1 jam. Kecemasan anda memang menurun, namun kecemasan tersebut tetap ada dan fobia anda tidak hilang sepenuhnya. Makanya, seorang psikolog biasanya akan meminta beberapa kali pertemuan, untuk memastikan bahwa fobia anda benar-benar hilang.


Di era teknologi dan global ini, kreativitas merupakan salah satu hal yang penting untuk berkembang dan unggul dalam persaingan. Kreativitas adalah hal yang sering dibicarakan, namun jarang diajarkan. Bahkan sekolah pun jarang mengajarkan kreativitas, karena kreativitas memang bukan diperoleh dari ruang kelas, melainkan dari kebebasan dalam berpikir dan proses yang panjang. Bagaimana caranya untuk mengembangkan kreativitas? Simak tips berikut:

1. Luangkan waktu untuk daydreaming
Daydreaming alias melamun mungkin dilarang bila dilakukan di kelas. Hal itu karena di kelas seharusnya kita mendengarkan guru menjelaskan, bukan karena melamun itu berbahaya. Melamun, pada kadar yang wajar, bisa memunculkan ide-ide unik dan kreatif. Hal ini karena melamun memberikan kita kesempatan untuk membayangkan berbagai hal tanpa batasan. Namun ingat, melamun hanya boleh dilakukan sewajarnya. Bila berlebihan, tentu ada risikonya.

2. Bayangkan bila semua kemungkinan itu mungkin
Seringkali proses kreatif terbatasi oleh pikiran kita sendiri. Ketika kita mulai menghadirkan ide-ide yang di luar kebiasaan, kita akan berpikir bahwa hal tersebut mustahil atau tidak akan disetujui, kemudian melupakannya kembali. Oke, memang tidak semua ide bisa dilakukan dan tidak semua ide akan selalu disetujui; tapi tidak semua ide kreatif pasti mustahil dan tidak akan disetujui. Maka dari itu, saat kamu sedang melewati proses kreatif, buanglah semua batasan.

3. Catat, lalu review
Ide-ide bagus terkadang muncul dalam waktu yang tidak tepat, seperti sedang mengendarai kendaraan, jalan-jalan bersama teman, atau berada di kamar mandi. Oleh karena itu, segera catat begitu kamu selesai melakukan aktivitas kamu tersebut, karena bila didiamkan terlalu lama, ide-ide tersebut bisa terlupakan. Setelah kamu mencatat ide tersebut, diamkan sejenak. Kamu bisa melakukan aktivitas lain, kemudian baca kembali ide tersebut dan coba kamu tambahkan lagi, hal-hal apa yang bisa ditambahkan lagi untuk melengkapi ide tersebut.

4. Bermain games dan menonton video
Betul, bermain game yang seringkali dituduh hanya membuang-buang waktu, ternyata tidak sesia-sia itu. Bermain game bisa memberikan inspirasi kepadamu untuk menemukan ide-ide baru. Karena itu, bila kamu sedang stuck dengan ide, bermain game saja dulu. Kamu tidak suka main game? Menonton video juga bisa kamu lakukan. Seringkali ide-ide muncul ketika kita sedang rileks dan merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Asal bermain game dan menonton videonya dalam kadar yang tepat ya, tidak berlebihan.

Oke deh, demikian tips untuk berpikir out of the box alias kreatif. Kamu bisa praktikkan segera dan ceritakan hasil yang kamu dapatkan dengan comment di blog ini. Thank you!

Sumber gambar:
"pencil and eraser on paper" oleh Shawn Campbell sesuai dengan izin CC BY 2.0

Bagi kamu - pembaca yang masih sekolah atau kuliah - dan sebentar lagi menghadapi ujian, tulisan ini saya khususkan bagi kalian. Tugas utama seorang pelajar adalah belajar, namun terkadang kita menghadapi kesulitan dan kebuntuan dalam belajar sehingga proses tersebut terasa letih dan melelahkan. Meski sudah belajar dengan upaya, namun hasil yang didapatkan masih juga tidak maksimal. Terkadang kita juga mungkin terheran-heran dengan seorang teman kita yang terlihat santai namun hasil ujiannya selalu memuaskan. Hal ini berarti nilai yang baik tidak selalu harus diraih melalui jam belajar yang berlebihan dan melelahkan. Sebenarnya, bagaimana cara agar kita bisa belajar dengan baik dan maksimal?

Ada banyak tips mengenai cara belajar yang baik untuk menghadapi ujian (kamu bisa baca di sini), namun kali ini saya akan membahas dengan lebih detil satu aspek saja, yaitu mengenali gaya belajar kita.

Setiap orang memiliki gaya belajarnya masing-masing. Sayangnya, pembelajaran yang terjadi di kelas seringkali tidak mendukung keragaman gaya belajar tersebut, sehingga bagi beberapa siswa proses belajar menjadi melelahkan. Kemudian, kita mengulangi lagi proses pembelajaran (yang tidak sesuai dengan gaya belajar kita) tersebut di rumah, sehingga rasanya semakin letih, namun hasil masih tidak maksimal. Sebenarnya, bukan karena kecerdasan kita yang buruk, atau guru kita yang salah mengajar; namun karena kita tidak menyesuaikan proses belajar dengan gaya belajar kita.

Gaya belajar ini terkait dengan cara kita menerima informasi dari lingkungan, yang terjadi melalui pancaindra kita. Dalam neuro-linguistic programming, hal ini disebut sebagai submodalities. Nah, kita menerima informasi melalui 3 cara, yaitu: (1) visual, (2) auditori, dan (3) kinestetik. Kita memiliki ketiganya, namun yang dominan adalah salah satu, sehingga kita perlu memaksimalkan yang dominan tersebut agar proses belajar kita menjadi maksimal.

Oke, bagaimana mengenali gaya belajar kamu? Kita simak dulu penjelasan masing-masing gaya belajar di bawah ini:

1. Visual
Gaya belajar visual berarti cenderung lebih mudah dalam menerima dan menyerap informasi dari penglihatan. Orang dengan gaya belajar visual sangat menyukai tabel, grafik, dan infographic yang sangat membantu mereka dalam memahami suatu konsep. Jangan heran bila orang visual memiliki buku catatan yang isinya berwarna-warni, karena mereka akan lebih mudah menyerap informasi bila tampilan visualnya menarik. Ia perlu untuk melihat buku/catatan/guru yang sedang menjelaskan agar lebih mudah menyerap informasi. Ia akan jenuh bila hanya diminta mendengarkan rekaman ceramah guru tanpa alat bantu vsiual. Selain itu, orang visual juga lebih suka situasi yang tenang dalam belajar. Orang visual biasanya cenderung berbicara cepat dan lebih peka terhadap warna dibanding kedua tipe yang lainnya.

2. Auditori
Gaya belajar auditori berarti cenderung lebih mudah dalam menerima dan menyerap informasi melalui mendengar. Orang dengan gaya belajar auditori sangat membutuhkan penjelasan secara lisan (diucapkan) mengenai suatu informasi. Dalam mendengarkan penjelasan guru, ia akan fokus mendengarkannya. Jangan heran bila ada orang auditori yang tidak pernah mencatat namun nilainya selalu baik, hal ini karena ia lebih cepat menerima informasi dari mendengarkan penjelasan guru. Karena itu, orang auditori sering merekam ceramah gurunya untuk diulang lagi di rumah. Orang auditori juga suka mengulang-ulang isi catatan dengan mengucapkannya, sehingga jangan heran bila mereka berisik dalam belajar.

3. Kinestetik
Orang kinestetik akan cenderung lebih mudah dalam menerima dan menyerap informasi dengan melakukannya, atau learning by doing. Biasanya orang kinestetik mudah bosan dengan penjelasan-penjelasan teoretis, karena mereka memang lebih menyukai praktik. Orang kinestetik juga cenderung sulit untuk duduk diam. Ia lebih suka bergerak-gerak. Jangan heran bila kamu memiliki teman yang selalu memainkan sesuatu di atas tangannya - misalnya buku atau pen - sambil mendengar penjelasan guru. Bisa jadi ia adalah orang kinestetik. Karena sifatnya yang lebih cepat belajar melalui praktik, maka mereka juga akan lebih unggul dalam pelajaran olahraga. Ciri khas orang kinestetik adalah sulit diam dan selalu bergerak. Jangan heran, ketika belajar ia akan mondar-mandir di kelas atau selalu memain-mainkan sesuatu sambil belajar.

Sekarang, dari ketiga tipe di atas, kamu mulai coba bandingkan dengan tipemu. Apakah kamu memiliki gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik? Kamu bisa mulai mengingat-ingat kebiasaanmu dalam belajar, atau meminta orang-orang terdekat kamu untuk membantu kamu mendeteksi gaya belajar kamu.

Setelah kamu mengetahui gaya belajar yang kamu miliki, selanjutnya yang kamu perlu lakukan adalah memaksimalkan proses pembelajaran kamu sesuai gaya belajar kamu. Bagaimana caranya?

1. Visual
Jika kamu memiliki gaya belajar visual, maksimalkan proses belajarmu dengan menggunakan alat bantu visual untuk belajar. Buatlah catatan yang menarik. Orang visual akan cepat paham bila informasi disajikan dalam bentuk grafik maupun tabel. Orang visual juga akan lebih cepat mengingat apabila catatannya dibuat berwarna-warni. Buatlah catatanmu semenarik mungkin, dengan gambar, grafik, dan berwarna-warni. Selain itu, kamu juga perlu belajar dalam suasana yang sunyi, karena kamu sangat mudah terganggu oleh suara atau orang yang mondar-mandir.

2. Auditori
Kamu yang memiliki gaya belajar auditori, akan lebih cepat menyerap informasi bila belajar bersama dengan teman-temanmu. Kamu akan lebih mudah belajar melalui suara, maka mintalah teman-temanmu untuk membacakan isi catatan mereka di depanmu. Jika tidak ada teman yang bisa menemanimu belajar, merekam penjelasan guru dan mengulanginya lagi juga akan sangat membantu. Kamu mungkin akan jenuh bila melihat isi catatan, tapi kamu akan menikmati bila kamu belajar melalui mendengar. Atau, kamu bisa juga membaca catatanmu sambil mendengarkan musik. Pilih musik yang pas, tentunya.

3. Kinestetik
Si learner by doing ini memang tidak bisa diam. Jika kamu memiliki gaya belajar kinestetik, maka kamu memang lebih mudah belajar sambil berjalan-jalan. Kamu bisa ke taman sambil membawa catatanmu. Jika kamu sedang tidak bisa keluar rumah, kamu bisa mondar-mandir di dalam kamar, atau membeli sebuah kursi goyang dan belajar di atas kursi tersebut.

Sekian dulu tentang gaya belajar. Silakan kamu praktikkan, dan ceritakan hasilnya dengan comment di sini ya :)


Salah satu gangguan psikologis yang paling sering muncul pada manusia adalah fobia. Saat ini anda mungkin sudah membayangkan fobia apa yang anda miliki. Hasil survey menunjukkan bahwa beberapa fobia yang paling umum dimiliki adalah fobia darah (hematophobia), fobia ketinggian (acrophobia), dan fobia ruang tertutup (claustrophobia). Beberapa fobia lainnya yang sering muncul adalah fobia sosial (seperti berbicara di depan umum) dan fobia terhadap binatang.

Fobia
Namun, terkadang orang juga salah membedakan antara fobia dengan ketakutan. Fobia memang melibatkan rasa takut, namun takut tidak selalu berarti fobia. Ada perbedaan di antara keduanya. Fobia sendiri merupakan rasa takut dan/atau cemas yang berlebihan dan tidak masuk akal yang muncul ketika individu berhadapan dengan sebuah benda atau situasi tertentu. Rasa takut dan cemas tersebut bisa menyebabkan respon fisik seperti keringat dingin, jantung berdetak, wajah pucat, dan lainnya. Bahkan, ketakutan dan kecemasan tersebut membuat pengidapnya akan berusaha untuk menghindari benda/situasi tersebut, sekalipun mereka menyadari bahwa ketakutan dan kecemasan tersebut tidak masuk akal.

Fobia dan Ketakutan
Berbeda dengan ketakutan. Ketika kita takut terhadap sesuatu, ada alasan di balik itu yang dapat diterima. Misalkan ketika kita melihat anjing liar yang menggonggong dengan kencang kepada kita, kemudian kita merasa takut dan berusaha menghindar. Hal tersebut masih tergolong ketakutan karena ada alasan jelas yang mengancam: anjing tersebut menggonggong kepada kita, dan ada kemungkinan ia akan menyerang. Namun berbeda ketika ada seorang individu memiliki fobia terhadap anjing. Sekalipun anjing yang muncul adalah anjing kecil yang berpenampilan lucu, ia akan tetap merasa takut dan cemas, serta berusaha menghindar dengan keringat dingin. Ia tahu anjing kecil tersebut tidak akan menyerangnya, namun ia tetap ingin menjauh dari anjing tersebut, meskipun terdengar tidak masuk akal.

Mulai mendapatkan gambaran mengenai perbedaan antara fobia dan takut?

Penyebab Fobia
Pertanyaannya selanjutnya adalah, mengapa fobia bisa muncul, dan apa penyebab dari fobia? Hal ini menarik untuk diketahui, karena banyak orang mempertanyakannya. Fobia umumnya berasal dari kejadian traumatis atau menakutkan di masa kecil, walaupun bisa juga terjadi pada masa remaja, tapi biasanya muncul karena sebuah pengalaman di masa kecil yang melibatkan ketakutan atau kecemasan, sehingga bertahan hingga dewasa dalam bentuk fobia.

Pengalaman Traumatis di Masa Kecil
Pengalaman tidak menyenangkan yang membekas, yang pernah terjadi di masa kecil, bisa menjadi penyebab fobia. Misal, ketika waktu masih berusia 5 tahun, ia pernah digonggongi oleh anjing liar. Kemudian ia berlari dan anjing tersebut justru mengejarnya sambil menggonggng keras. Hal ini menimbulkan rasa takut yang besar dan membekas. Meskipun ia selamat dari kejaran si anjing liar, namun rasa takut tersebut membekas. Kini, ia berusia 25 tahun dan memiliki fobia terhadap anjing. Ia bahkan tetap merasa cemas dan ingin menghindar sekalipun berhadapan dengan anjing kecil yang jinak.

Pembelajaran dari Orang Tua
Selain pengalaman traumatis saat kecil, fobia juga bisa berasal dari proses pembelajaran anak terhadap orang tua. Seorang ibu yang memiliki fobia terhadap darah berteriak dengan kencang dan lari dengan cepat ketika melihat darahnya sendiri dari jari yang tidak sengaja tertusuk jarum. Kejadian tersebut dilihat oleh sang anak yang masih berusia 3 tahun. Anak adalah makhluk pembelajar yang sangat hebat dan cepat. Melihat kejadian tersebut, anak kemudian belajar bahwa jari tertusuk jarum hingga berdarah adalah kejadian yang berbahaya, karena ia melihat ibunya berteriak kencang dan berlari cepat ketika mengalaminya. Ketika dewasa, bisa jadi anak tersebut mengalami fobia darah atau fobia jarum, atau keduanya.

Mengapa Fobia Muncul?
Sebenarnya, pikiran kita memiliki maksud yang baik dan ingin selalu melindungi kita dari bahaya. Ketika seseorang pernah dikejar oleh anjing liar yang galak pada masa kecilnya dan mengalami ketakutan yang membekas, ia kemudian menyimpan ingatan bahwa anjing adalah hewan yang berbahaya dan bisa menyerang. Ketika ia bertemu dengan hewan anjing, pikirannya kemudian akan mencegahnya untuk mengalami kejadian yang sama lagi pada masa kecil (dikejar oleh anjing), dan memberikan sinyal untuk menghindar melalui fobia. Demikian pula ketika ada anak kecil yang melihat ibunya berteriak ketakutan karena jarinya tertusuk jarum, dan pada usia 24 tahun mengalami fobia jarum. Pikirannya ingin mencegahnya dari kejadian yang sama dengan ibunya dulu, dan memberikan sinyal dalam bentuk fobia.

Bagaimana Mengatasi Fobia?
Cara untuk mengatasi fobia akan dibagikan dalam artikel selanjutnya. Kunjungi blog ini secara rutin agar mendapatkan artikel-artikel psikologi terbaru dengan cepat :)
Note:
Contoh-contoh pada artikel ini adalah fiksi

Referensi Gambar:
"a selection of phobias" oleh Sarah Wulfeck, sesuai dengan izin CC BY 2.0


Kuliah jurusan psikologi


Sebelum bikin blog ini, gue sempat bertahun-tahun nulis blog di wordpress. Gue nulis sebenarnya buat iseng, tapi gak nyangka ternyata banyak yang buka blog gue, meninggalkan comment, sampai follow akun instagram gue dan nyapa gue di sana. Tersanjung juga sih, artinya tulisan gue bisa berguna bagi orang lain. Thank you bagi yang sudah comment dan follow socmed gue! :)

Oke, kembali menggunakan "saya" ya, rasanya aneh ngetik pake "gue"

Salah satu artikel yang paling sering dibuka di blog lama saya adalah artikel mengenai pengalaman kuliah di jurusan psikologi. Karena itu, pada blog saya kali ini, saya akan kembali share bagaimana pengalaman saya kuliah di jurusan psikologi.

1. Banyak teori yang harus dipelajari?
Jawabannya: iya. Apalagi kalau masih semester-semester awal. Ada banyak sekali teori dan prinsip psikologi yang harus dipelajari, dan seringkali juga harus dihafal. Meski demikian, bukan berarti psikologi hanya sekadar menghafal teori. Kalau kamu hanya mengandalkan daya ingat dan daya hafal, maka teori yang kamu ketahui tersebut tidak akan berguna, apalagi ketika di semester-semester atas ketika kamu akan lebih banyak menggunakan teori-teori tersebut untuk menganalisis kasus maupun memberikan masukan terhadap isu-isu psikologi. Oleh karena itu, kamu justru harus lebih menggunakan pemahaman kamu dalam memelajari teori-teori psikologi, dan coba untuk menerapkan teori tersebut dalam kehidupan kamu sehari-hari :)

2. Tidak ada hitungan? Gak juga
Dulu, banyak teman-teman saya yang memilih jurusan psikologi karena merasa bahwa jurusan tersebut tidak akan ada hitung-hitungan, sehingga alasan utama mereka memilih psikologi adalah agar terhindar dari matematika dan hitungan. Sayangnya, dalam psikologi ada hitungan... Bahkan di tahun pertama kuliah, kamu akan bertemu dengan mata kuliah Statistik, dilanjutkan dengan mata kuliah Psikometri di semester-semester atas. Tapi tenang, hitung-hitungan di dalam psikologi bisa dipelajari, termasuk kalau kamu merasa kurang kuat di hitungan. Cukup dengan latihan yang memadai dan pemahaman yang tepat, kamu pasti lulus!

3. Anak psikologi, bisa baca pikiran?
Waktu saya kuliah dulu, ketika orang-orang mengetahui saya kuliah jurusan psikologi, maka mereka selalu berharap saya bisa membaca pikiran maupun sifat mereka hanya dengan sekali lihat. Mungkin kamu yang sekarang masih duduk di bangku SMA dan tertarik dengan jurusan psikologi, juga mengira bahwa psikologi merupakan ilmu tentang membaca pikiran dan memprediksi masa depan seseorang. Bukan, psikologi berbeda dengan kedukunan. Kamu tidak akan menjadi dukun atau mentalist dengan memelajari psikologi. Tapi, dalam psikologi memang diajarkan karakteristik-karakteristik manusia yang membuat kamu lebih mudah dan lebih cepat dalam memahami perilaku maupun watak orang lain. Menarik kan?

4. Cewek semua!
Hari pertama kuliah S1 psikologi, saya sempat kaget karena banyaaaaaak sekali perempuan di jurusan tersebut. Bahkan di angkatan saya, perbandingan mahasiswi dengan mahasiswa kira-kira 7:1. Pernah pada suatu mata kuliah, dari 60 siswa, hanya ada 1 mahasiswa laki-laki, yaitu saya sendiri! Sisa 59 orang lainnya? Ya mahasiswi, lah! Jangan heran jika kamu melihat di psikologi, seorang cowok bisa duduk beramai-ramai dengan cewek-cewek. Bagi kamu, ini kabar baik atau kabar buruk?

5. Banyak wawancara, observasi, analisis & nonton film
Meski di semester-semester awal akan banyak sekali teori yang harus kamu pelajari, tapi teori tersebut tidaklah sekadar hafalan yang menguap begitu saja. Kamu akan "bertemu" kembali dengan teori-teori tersebut di semester-semester selanjutnya, namun digunakan untuk menganalisis fenomena yang terjadi. Kamu akan sering diminta oleh dosen-dosen kamu untuk mengobservasi perilaku orang lain, mewawancarai orang-orang, kemudian menganalisisnya sesuai dengan teori yang sudah kamu pelajari tersebut. Tidak jarang juga, kamu diberikan tugas untuk menonton film dan menganalisis tokoh-tokoh dalam film tersebut dengan teori tersebut. Seru dan menantang!

OK, sekian dulu pengalaman yang bisa saya bagikan ketika kuliah di jurusan psikologi. Saya akan tambahkan lagi di tulisan selanjutnya, ditunggu ya! :)

Referensi gambar:
"Human Behaviour" oleh Zoe sesuai dengan izin CC BY 2.0
2016 by Garvin Goei. Powered by Blogger.